Sejarah Orang Rimbo

Sejarah Orang Rimbo

SEJARAH ORANG RIMBA ( SUKU ANAK DALAM)

DI WILAYAH KABUPATEN TEBO

 

  1. Sebutan dan Sejarah SAD

Orang Rimbo atau yang dikenal dengan Suku Anak Dalam (SAD) merupakan salah satu etnik tradisional yang ada di Indonesia;  merupakan sebutan  bagi komunitas adat terpencil yang hidup dan tersebar dalam hutan di provinsi Jambi dan provinsi Sumatera Selatan.  Sebutan ini menginterpretasikan situasi dari kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) yang sejak nenek moyangnya menggantungkan hidup pada berbagai hasil dan manfaat hutan. Sebutan Suku Anak Dalam (SAD) cukup mengena dan lebih realistis sehingga lebih sering di gunakan. Penyebutan lain suku yang dianggap belum hidup normal ini adalah  Komunitas Adat Terpencil, ada juga yang menyebut Orang Kubu yang  merupakan sebutan yang dilekatkan oleh masyarakat Melayu pada komunitas ini. Kubu diartikan hidup liar, kotor, bau, penuh dengan kekuatan mistis, bodoh dan tertutup. Makanya penyebutan kubu ini sangat ditentang oleh Orang Rimba, dan kemudian mereka menyebutkan identitas mereka sebagai Orang Rimba. Di beberapa lokasi ada juga yang menyebut sebagai orang Rimbo atau Anak Dalam.

Orang Rimbo atau Suku Anak Dalam (SAD) bermukim di berbagai kawasan hutan provinsi Jambi yang pada saat ini terutama  pada kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas dan Bukit Tigapuluh. Secara administratif  kawasan akses Suku Anak Dalam (SAD) menyebar di kabupaten Sarolangun Bangko, Bungo, Tebo dan Batang Hari. Kawasan yang di diami Orang Rimba ini secara geografis adalah kawasan yang dibatasi oleh Batang Tabir di sebelah barat, Batang Tembesi di sebelah timur, Batang Hari di sebelah utara dan Batang Merangin di sebelah selatan. Selain itu, kawasan ini pun terletak di antara beberapa jalur perhubungan yaitu lintas tengah Sumatera, lintas tengah penghubung antara kota Bangko, Muara Bungo dan Jambi serta lintas timur Sumatera. Dengan letak yang demikian, maka dapat dikatakan kawasan ini berada di tengah-tengah provinsi Jambi.

Hingga kini, tidak diketahui secara pasti asal muasal Suku Anak Dalam. Versi Departemen sosial dalam data dan informasi Depsos RI (1990) menyebutkan asal usul Suku Anak Dalam dimulai sejak tahun 1624 ketika Kesultanan Palembang dan Kerajaan Jambi, yang sebenarnya masih satu rumpun, terus menerus bersitegang sampai pecahnya pertempuran di Air Hitam pada tahun 1929. Versi ini menunjukkan mengapa saat ini ada 2 kelompok masyarakat anak dalam dengan bahasa, bentuk fisik, tempat tinggal dan adat istiadat yang berbeda. Mereka yang menempati belantara Musi Rawas (Sumatera Selatan) Berbahasa Melayu, berkulit kuning dengan berpostur tubuh ras Mongoloid seperti orang palembang sekarang. Mereka ini keturunan pasukan Palembang. Kelompok lainnya tinggal dikawasan hutan Jambi berkulit sawo matang, rambut ikal, mata menjorok ke dalam. Mereka tergolong ras wedoid (campuran wedda dan negrito ). Konon mereka tentara bayaran Kerajaan Jambi dari Negara lain.

Versi lain adalah cerita tentang Perang Jambi dengan Belanda yang berakhir pada tahun 1904, Pihak pasukan Jambi yang dibela oleh Anak Dalam yang di pimpin oleh Raden Perang. Raden Perang adalah seorang cucu dari Raden Nagasari. Dalam perang gerilya Anak Dalam terkenal dengan sebutan orang Kubu artinya orang yang tak mau menyerah pada penjajahan Belanda. Orang belanda disebutnya sebagai orang Kayo Putih dan menjadi lawan Raja Jambi (Orang Kayo Hitam).

Sedangkan versi lainnya adalah, Suku Anak Dalam (SAD) berasal dari Pagaruyung yang diperbantukan Raja Pagaruyung ketika perang Kesultanan Melayu Jambi melawan Belanda atau yg mereka sebut dengan Orang Kayo Putih (penjajah), namun jauhnya jarak tempuh membuat mereka tidak berhasil menjalankan misi yang diamanahkan karena perang telah usai dan artinya mereka gagal menjalankan amanah. Karena merasa malu dan tak berani untuk kembali ke pagaruyung akhirnya mereka memilih untuk menetap dipedalaman hutan jambi. Versi ini juga merupakan yang paling mendekati kebenaran tentang asal usul Suku Anak Dalam (SAD), hal tersebut dikuatkan oleh sistim kekerabatan mereka yang menganut sistim matrilineal (garis ibu) serta sumber hukum yang mereka gunakan adalah Pucuk Undang  Nan Salapan sebagai mana yang dianut oleh masyarakat Minangkabau.

Van Dongen (1906) dalam Tempo (2002), menyebutkan bahwa orang rimba sebagai orang primitif yang taraf kemampuannya masih sangat rendah dan tak beragama. mereka melakukan transaksi dengan bersembunyi di dalam hutan dan melakukan barter, mereka meletakkannya di pinggir hutan, kemudian orang melayu akan mengambil dan menukarnya.

Sementara Bernard Hagen (1908) dalam Tempo (2002) (die orang kubu auf Sumatra) menyatakan orang rimba sebagai orang pra melayu yang merupakan penduduk asli Sumatera. Senada dengan Bernard Hagen,  Paul Bescrta mengatakan bahwa orang rimba adalah proto melayu (melayu tua) yang ada di semenanjung Melayu yang terdesak oleh kedatangan Melayu muda.
Dari uraian di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan Koentjaramingrat (Koentjaraningrat, 1993) bahwa asal mula adanya masyarakat terasing dapat di bagi dua yaitu pertama, dengan menganggap bahwa masyarakat terasing itu merupakan sisa sisa dari suatu produk lama yang tertinggal di daerah daerah yang tidak dilewati penduduk sekarang, kedua bahwa mereka merupakan bagian dari penduduk sekarang yang karena peristiwa peristiwa tertentu diusir atau melarikan diri ke daerah daerah terpencil sehingga mereka tidak mengikut perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat.

  1. Gambaran Umum SAD

Jambi merupakan salah satu wilayah yang mempunyai masyarakat adat, beberapa kalangan menyebutnya dengan masyarakat Kubu, atau anak dalam, atau Orang Rimba, namun yang lebih terdengar dalam kalangan masyarakat nasional adalah suku anak dalam yang terdabat di provinsi Jambi ini, dan keberadaannya tersebar di beberapa kabupatan yang ada.

Kabupaten Tebo merupakan salah satu area komunitas Suku Anak Dalam (SAD) khususnya yang terdapat di areal konservasi Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT). Terdapat tiga kelompok SAD di wilayah ini diantaranya yang dikenal juga dengan Suku Talang Mamak (Suku Kubu/Orang Rimba). Data yang ada menunjukkan terdapat 823 jiwa SAD di Kabupaten Tebo.

Jumlah SAD Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kabupaten

    Sumber: Website BPS Kabupaten Sarolangun,( 2011)

Orang Rimba atau yang dikenal dengan Suku Anak Dalam (SAD) merupakan salah satu etnik tradisional yang ada di Indonesia;  merupakan sebutan  bagi komunitas adat terpencil yang hidup dan tersebar dalam hutan di provinsi Jambi dan provinsi Sumatera Selatan. Dua Sebutan ini menginterpretasikan situasi dari kehidupan SAD yang sejak nenek moyangnya menggantungkan hidup pada berbagai hasil dan manfaat hutan. Sebutan SAD cukup mengena dan lebih real sehingga lebih sering di gunakan.

Penyebutan lain suku yang dianggap belum hidup normal ini  Juga sempat dinamai Komunitas Adat Terpencil, yang berikutnya disebut Kubu merupakan sebutan yang dilekatkan oleh masyarakat Melayu pada komunitas ini. Kubu diartikan hidup liar, kotor, bau, penuh dengan kekuatan mistis, bodoh dan tertutup. Makanya penyebutan kubu ini sangat ditentang oleh Orang Rimba, dan kemudian mereka menyebutkan identitas mereka sebagai Orang Rimba. Di beberapa lokasi ada juga yang menyebut sebagai orang Rimbo atau Anak Dalam.

SAD bermukim di berbagai kawasan hutan provinsi Jambi yang pada saat ini terutama  pada kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas dan Bukit Tiga Puluh. Secara administratif  kawasan akses SAD menyebar di kabupaten Sarolangun Bangko, Bungo, Tebo dan Batang Hari. Kawasan yang di diami Orang Rimba ini secara geografis adalah kawasan yang dibatasi oleh Batang Tabir di sebelah barat, Batang Tembesi di sebelah timur, Batang Hari di sebelah utara dan Batang Merangin di sebelah selatan. Selain itu, kawasan ini pun terletak di antara beberapa jalur perhubungan yaitu lintas tengah Sumatera, lintas tengah penghubung antara kota Bangko, Muara Bungo dan Jambi serta lintas timur Sumatera. Dengan letak yang demikian, maka dapat dikatakan kawasan ini berada di tengah-tengah provinsi Jambi.

  1. Wilayah Hidup ;  Dinamika sosial budaya dan ekonomi  SAD.

Hutan adalah habitat Suku Anak Dalam (SAD). Hutan merupakan rumah, sumber penghidupan dan perlindungan bagi Suku Anak Dalam (SAD). Hutan adalah tempat Anak – Anak Rimbo tumbuh berkembang menjadi manusia yang arif terhadap alam. Dalam keteduhan pepohonan, Suku Anak Dalam (SAD) menganyam kehidupan mereka. Sebagai mana seloko  yang menjelaskan tentang mereka, ‘’betubuh ongkok, bepisang cangko, beatap tikai, badinding baner, melemak buah betatal, minum aek dari bonggol kayu’’ kemudian ’’beayam kuau, bekambing kijang, besapi ruso, bekerbau tenuk’’. Sebagai masyarakat hutan,  Suku Anak Dalam (SAD) sejak dulu  sudah membedakan berbagai area hutan yang memiliki nilai kemanfaatan berbeda, misalnya ada area yang dinamakan halom bungaron, yaitu kawasan hutan yang masih utuh dan memiliki kerapatan vegetasi yang tinggi. Area ini nyaris tidak dimanfaatkan oleh Suku Anak Dalam (SAD).  Lalu ada halom balolo dan ranah yang merupakan kawasan dimana Suku Anak Dalam (SAD) biasa berburu dan mengambil berbagai hasil hutan. Kemudian ada area halom benuaron dan humo yang dimanfaatkan untuk berladang. Bila digambarkan dengan lingkaran-lingkaran, maka halom bungaron adalah lingkaran terdalam, dibagian luarnya adalah halom balolo, dan terluar adalah halom benuaron. Tempat berladang Suku Anak Dalam tersebar di pinggir dan di dalam kawasan hutan. Suku Anak Dalam sangat mengenal hutan dan isinya, mereka memanfaatkan berbagai tumbuhan dan hasil hutan yang terdapat di dalam hutan untuk memenuhi kehidupan mereka. Hutan merupakan habitat bagi Suku Anak Dalam, Rumah tempat mereka tinggal yang biasa disebut sudung, hanya terdiri dari atap rumbia, dengan lantai anak kayu, dan tanpa dinding. Di sudung inilah mereka berkumpul bersama keluarga, bahkan dengan hewan-hewan piaraan pula.

Pola hidup Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimbo pada umumnya adalah berkelompok dengan satu pemimpin suku yang bergelar Temenggung dan satu wakil yang disebut dengan Depati yang bertugas mewakili Temenggung ketika yang bersangkutan berhalangan hadir dalam acara-acara penting suku mereka. Seorang yang bergelar Depati bertugas menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan hukum dan keadilan. Strata sosial lainnya yang terdapat dalam susunan kepemimpinan suku Rimba adalah adanya seorang yang bergelar Debalang yang tugasnya terkait dengan stabilitas keamanan masyarakat dan seorang yang bergelar Manti yang tugasnya memanggil masyarakat pada waktu tertentu. Pengulu adalah sebuah institusi sosial yang mengurus dan memimpin masyarakat orang Rimba. Ada juga yang bertugas seperti dukun, atau Tengganai dan Alim yang mengawasi dan melayani masyarakat dalam masalah spiritual dan di bidang kekeluargaan, nasehat adat dan sebagainya. Seorang pemimpin atau Temenggung sendiri dalam masyarakat Rimbo dan Batin Sembilan dapat dikenali dengan bentuk rumahnya yaitu seorang Temenggung mendiami sebuah rumah yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Kediaman Temenggung ini memiliki dinding kayu, atapnya dari daun dengan lantai yang kira-kira 2 meter lebih tinggi dari tanah. Rumah ini oleh masyarakat Suku Rimba disebut dengan Bubangan. Sedangkan rumah warga biasa yang disebut sampaeon lebih sederhana, dengan lantai kira-kira setengah meter tingginya dari tanah. Lantai dibuat dari batang kecil kayu bulat dan atapnya dibuat dari plastik hitam.

Untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, Suku Anak Dalam, melaksanakan kegiatan berburu, meramu, menangkap ikan dan memakan buah-buahan yang ada di dalam hutan. Berburu binatang seperti Babi, Kera, Beruang, Monyet, Ular, Labi-labi, Rusa, Kijang dan berbagai jenis unggas, merupakan salah satu bentuk mata pencaharian mereka. Kegiatan berburu dilaksanakan secara bersama-sama dengan membawa anjing. Alat yang digunakan adalah Tombak dan Parang. Di samping itu untuk mendapatkan binatang buruan juga menggunakan sistem perangkap dan jerat.

Jenis mata pencaharian lain yang dilakukan adalah meramu didalam hutan, yaitu mengambil buah-buahan dedaunan dan akar-akaran sebagai bahan makanan. Lokasi tempat meramu sangat menentukan jenis yang diperoleh. Jika meramu dihutan lebat, biasanya mendapatkan buah-buahan, seperti cempedak, durian, arang paro, dan buah-buahan lainnya. Di daerah semak belukar dipinggir sungai dan lembah mereka mengumpulkan pakis, rebung, gadung, enau, dan rumbia. Mencari rotan, mengambil madu, menangkap ikan adalah bentuk mata pencaharian lainnya.

Interaksi sosial yang di lakukan oleh Suku Anak Dalam (SAD) terdiri dari beberapa  bagian :

(1)   hubungan sosial sesama Suku Anak Dalam (SAD)

Hubungan ini didasarkan pada budaya atau kebiasaan meskipun juga terlaksana pada saat bertemu dengan Suku Anak Dalam (SAD) dari kelompok berbeda. Kecenderungan hubungan tersebut berjalan seimbang tanpa ada kelompok Suku Anak Dalam (SAD) yang mendominasi. Dalam prakteknya meskipun kerap bersosialisasi dengan berbagai kelompok lainya sulit bagi Suku Anak Dalam (SAD) untuk bisa saling membaur antar kelompok Suku Anak Dalam (SAD) Lainnya.

(2)   Hubungan sosial dengan masyarakat lokal/adat ( Bhathin).

Ketertutupan Suku Anak Dalam (SAD) terhadap masyarakat yang bukan kelompoknya membentuk koneksi Suku Anak Dalam (SAD) terhadap orang luar hanya kepada satu orang di desa yang di anggap dapat di percaya. Orang tersebut kemudian di sebut Jenang, merupakan tokoh masyarakat desa yang seterusnya di percayai Suku Anak Dalam (SAD) untuk melindungi serta mengurus segala sesuatu apa bila terjadi persoalan dengan orang luar (orang terang), lebih luas untuk urusan hukum dan politik Suku Anak Dalam (SAD) mempercayakan segala sesuatunya dgn jenang. Jenang juga tokoh yang dipilih dari desa yang terdekat dengan pemukiman Suku Anak Dalam (SAD), dan biasanya sekali setahun (hari Raya Idul Fitri) seluruh anggota kelompok mereka berkumpul dirumah jenang untuk bersilaturahmi. Sampai sekarang seorang Jenang juga merupakan penghubung antara orang luar khususnya jika pemerintah berkepentingan untuk menemui mereka. Suku Anak Dalam (SAD) mengakui NKRI dan menyebut Pemerintah dengan istilah Rajo Gedang, hal tersebut karena SAD juga mengenal istilah ‘’betuan satu’’ yang artinya untuk urusan menyangkut kepentingan kelompoknya mereka hanya mempercayakannya kepada Jenang.

Toke, mempunyai fungsi  lebih kepada urusan terkait ekonomi. Untuk menjual hasil-hasil yang mereka peroleh dari hutan seperti getah Jerenang, getah Balam, damar, buah semangkuk serta hasil yang mereka dapat akan dijual kepada toke, dahulu mereka melakukan transaksi dengan cara barter. Sedangkan untuk masalah nilai barang, Suku Anak Dalam (SAD) akan tetap berpegang dengan harga yang telah mereka sepakati sejak awal melakukan komunikasi. Dan biasanya, dalam melakukan transaksi dahulu Suku Anak Dalam (SAD) tidak melakukannya secara lansung. Pola transaksinya dilakukan pada tempat yang disepakati dengan cara, Suku Anak Dalam (SAD) terlebih dahulu meletakan barang yang akan dibarter dibawah batang pohon besar sambil melihat dari jauh, lalu kemudian toke datang mengambil dan meninggalkan barang-barang yang dibutuhkan Suku Anak Dalam (SAD) tersebut dibahah pohon. Setelah toke pergi barulah mereka mengambil barang-barang tersebut, biasanya barang-barang yang dibutuhkan mereka adalah beras, garam, rokok (tembakau) peralatan berburu, kain serta barang-barang lainnya yang mereka butuhkan.

(3)   Hubungan Suku Anak Dalam (SAD) dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pendamping, perusahaan, Pemerintah dan masyarakat lainnya.

Perkembangan zaman juga berdampak pada Suku Anak Dalam (SAD), semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat desa dan pendatang-pendatang dari luar akan lahan pertanian baru berdampak pada perubahan kehidupan sosial serta kebudayaan mereka. Suku Anak Dalam (SAD) semakin intens berkomunikasi dgn orang luar untuk beragam keperluan bahkan juga dalam kerja sama pengelolaan lahan hutan, bahkan beberapa diantara mereka juga telah mengenal jual-beli lahan hutan pada orang luar.meskipun kecenderungan kerjasama dengan orang luar lebih besar pada berbagai upaya untuk memanfaatkan Suku Anak Dalam (SAD) terhadap kepentingan perorangan maupun kepentingan kelompok tertentu praktek untuk menggunakan Suku Anak Dalam (SAD) menjadi bagian yang mengamankan penguasaan lahan oleh pendatang pada wilayah jelajah dan hidup Suku Anak Dalam (SAD) terbukti ampuh untuk mengclaim kawasan konsesi perusahaan oleh pendatang.

Dengan semakin berkurangnnya kawasan Hutan yang berdampak sangat menurunya pelayanan Hutan terhadap Suku Anak Dalam (SAD)  maka   Konflik Suku Anak Dalam (SAD)-pun muncul  beberapa tahun terakhir, baik itu antara Suku Anak Dalam (SAD) dengan warga Desa, Suku Anak Dalam (SAD) dengan pendatang, hingga Suku Anak Dalam (SAD) dengan Perusahaan, bagi Suku Anak Dalam (SAD) perlawanan terhadap penguasaan kawasan hutan lebih pada upaya mempertahankan hidup dan mempertahankan sumber penghidupan.

Semakin Marginal nya  Suku Anak Dalam (SAD) telah mendorong banyak pihak untuk melakukan berbagai upaya yang di rasa dapat menjawab permasalahan Suku Anak Dalam (SAD) saat ini maupun waktu yang akan dating.

Table 1 :  publikasi para pihak yang merespon permasalahan SAD di Provinsi Jambi.