Konservasi

Konservasi

KONSERVASI

Banyak definisi mengenai konservasi. American Dictionary memberikan pengertian konservasi sebagai menggunakan sumber daya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama.

Pengertian Konservasi menurut Wikipedia adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, (Inggris) Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan.

Sedangkan menurut ilmu lingkungan, Konservasi adalah

Upaya efisiensi dari penggunaan energi, produksi, transmisi, atau distribusi yang berakibat pada pengurangan konsumsi energi di lain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya.
Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam
(fisik) Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kiamia atau transformasi fisik.
Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan
Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya.

Konsep konservasi pertama kali dikemukakan oleh Theodore Roosevelt pada tahun 1902. Konservasi berasal dari kata “conservation”, bersumber dari kata con (together) dan servare (to keep, to save) yang dapat diartikan sebagai upaya memelihara milik kita (to keep, to save what we have), dan menggunakan milik tersebut secara bijak (wise use).

Secara leksikal, konservasi dimaknai sebagai tindakan untuk melakukan perlindungan atau pengawetan; sebuah kegiatan untuk melestarikan sesuatu dari kerusakan, kehancuran, kehilangan, dan sebagainya (Margareta, et al. 2010). Lazimnya, konservasi dimaknai sebagai tindakan perlindungan dan pengawetan alam. Persoalan yang dikaji umumnya adalah biologi dan lingkungan. Salah satu fokus kegiatan konservasi adalah melestarikan bumi atau alam semesta dari kerusakan atau kehancuran akibat ulah manusia. Namun dalam perkembangannya, makna konservasi juga dimaknai sebagai pelestarian warisan kebudayaan (cultural heritage).

IUCN (2007) mengartikan konservasi sebagai manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan.

Richmond and Alison Bracker (ed) (2009) mengartikan konservasi sebagai suatu proses kompleks dan terus-menerus yang melibatkan penentuan mengenai apa yang dipandang sebagai warisan, bagaimana ia dijaga, bagaimana ia digunakan, oleh siapa, dan untuk siapa. Warisan yang disebut dalam definisi Richmond dan Alison tersebut, tidak hanya menyangkut hal fisik, tetapi juga kebudayaan.

Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian konservasi tidak hanya menyangkut masalah perawatan, pelestarian, dan perlindungan alam, tetapi juga menyentuh persoalan pelestarian warisan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi. Konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba memanfaatkan sumber daya alam untuk masa sekarang. Dari segi ekologi, konservasi merupakan pemanfaatan sumber daya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang. Dalam konteks yang lebih luas, konservasi tidak hanya diartikan secara sempit sebagai menjaga atau memelihara lingkungan alam (pengertian konservasi fisik), tetapi juga bagaimana nilai-nilai dan hasil budaya dirawat, dipelihara, dijunjung
tinggi, dan dikembangkan demi kesempurnaan hidup manusia.

Berbicara mengenai upaya konservasi, prinsip utama kegiatan bertumpu pada empat hal utama, yaitu : pelestarian, perlindungan, pemeliharaan dan pengelolaan.

Berdasarkan Piagam Burra Charter, 1981 pengertian dari kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pelestarian

a. Adalah segala upaya untuk memperpanjang usia benda cagar budaya, situs atau kawasan peninggalan bersejarah dengan cara perlindungan dan pemeliharaan.

b. Merupakan upaya pengelolaan pusaka melalui kegiatan penelitian, perlindungan, pemeliharaan, pemanfaatan dan atau pengembangan secara selektif untuk menjaga kesinambungan, keserasian dan daya dukungnya dalam menjawab dinamika jaman untuk membangun kehidupan yang berkualitas.

2. Perlindungan

Adalah upaya mencegah dan menanggulangi segala gejala atau akibat yang disebabkan oleh perbuatan manusia atau proses alam, yang dapat menimbulkan kerugian atau kemusnahan bagi nilai manfaat dan keutuhan benda cagar budaya, situs dan kawasan dengan cara Penyelamatan, Pengamanan dan Penertiban, yaitu :

a. Penyelamatan : adalah suatu upaya perlindungan terhadap benda cagar budaya dan atau situs serta

kawasan bersejarah yang secara teknis dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi dari ancaman,

kerusakan dan atau kemusnahan yang ditimbulkan baik oleh alammaupun manusia.

b. Pengamanan : adalah salah satu upaya perlindungan benda cagar budaya, situs dan kawasan dengan

cara menjaga, mencegah Dan menanggulangi hal- hal yang ditimbulkan oleh perbuatan manusia yang

dapat merugikan kelestarian dan kekayaan benda cagar budaya tersebut.

3. Pemeliharaan

Adalah upaya melestarikan benda cagar budaya, situs dan kawasan dari kerusakan yang diakibatkan oleh faktor manusia, alam dan hayati dengan cara Pemugaran dan Pemanfaatan, sebagai berikut :

a. Pemugaran : adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan benda cagar budaya, situs

dan kawasan dan atau pemanfaatannya dengan cara mempertahankan keasliannya berdasarkan data yang

ada dan memperkuat strukturnya bila diperlukan, yang dapat dipertanggung jawabkan dari segi

arkeologis, historis dan teknis.

b. Pemanfaatan : adalah segala upaya untuk meberdayakan benda cagar budaya, situs Dan kawasan sebagai

aset budaya untuk berbagai kepentingan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pelestariaannya.

4. Pengelolaan

Adalah segala upaya terpadu untuk melestarikan dan memanfaatkan benda cagar budaya, situs dan kawasan melalui kebijaksanaan pengaturan perencanaan, perlindungan, pemeliharaan, pemugaran, pemanfaatan dan pengendalian.

Bentuk-bentuk dari kegiatan konservasi menurut (UNESCO.P.36/2005) adalah :

1. Restorasi ialah kegiatan pemugaran untuk mengembalikan bangunan dan lingkungan cagar budaya

semirip mungkin ke bentuk asalnya berdasarkan data pendukung tentang bentuk arsitektur dan struktur

pada keadaan asal tersebut dan agar persyaratan teknis bangunan terpenuhi. (UNESCO.P. 36/2005).

2. Preservasi ialah bagian dari perawatan dan pemeliharaan yang intinya adalah mempertahankan keadaan

sekarang dari bangunan dan lingkungan cagar budaya agar kelayakan fungsinya terjaga baik (UNESCO.P.

36/2005).

3. Konservasi ialah semua proses pengelolaan suatu tempat hingga terjaga signifikasi budayanya. Hal ini

termasuk pemeliharaan dan mungkin (karena kondisinya) termasuk tindakan preservasi, restorasi,

rekonstruksi, konsoilidasi serta revitalisasi. Biasanya kegiatan ini merupakan kombinasi dari beberapa

tindakan tersebut (UNESCO.P. 36/2005).

4. Rekonstruksi ialah kegiatan pemugaran untuk membangun kembali dan memperbaiki seakurat mungkin

bangunan dan lingkungan yang hancur akibat bencana alam, bencana lainnya, rusak akibat terbengkalai

atau keharusan pindah lokasi karena salah satu sebab yang darurat,dengan menggunakan bahan yang

tersisa atau terselamatkan dengan penambahan bahan bangunan baru dan menjadikan bangunan tersebut

layak fungsi dan memenuhi persyaratan teknis. (UNESCO.P. 36/2005).

5. Revitalisasi ialah kegiatan pemugaran yang bersasaran untuk mendapatkan nilai tambah yang optimal

secara ekonomi, sosial, dan budaya dalam pemanfaatan bangunan dan lingkungan cagar budaya dan dapat

sebagai bagian dari revitalisasi kawasan kota lama untuk mencegah hilangnya asset – aset kota yang

bernilai sejarah karena kawasan tersebut mengalami penurunan produktivitas. (UNESCO.P.36/2005, Ditjen

PU-Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Pedesaan).

Dengan kata lain bahwa dalam konsep konservasi terdapat alur memperbaharui kembali (renew), memanfaatkan Kembali (reuse), reduce (mengurangi), mendaur-ulang kembali (recycle), dan menguangkan kembali (refund).

Adapun tujuan konservasi adalah untuk : (1) mewujudkan kelestarian sumberdaya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya, sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan dan mutu kehidupan manusia, (2) melestarikan kemampuan Dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang. Selain itu, konservasi merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kelestarian satwa. Tanpa konservasi akan menyebabkan rusaknya habitat alami satwa. Rusaknya habitat alami ini telah menyebabkan konflik manusia dan satwa. Konflik antara manusia dan satwa akan merugikan kedua belah pihak; manusia rugi karena kehilangan satwa bahkan nyawa sedangkan satwa rugi karena akan menjadi sasaran balas dendan manusia (Siregar, 2009)

Konservasi lahir akibat adanya semacam kebutuhan untuk melestarikan sumber daya alam yang diketahui mengalami degradasi mutu secara tajam. Dampak degradasi tersebut, menimbulkan kekhawatiran dan kalau tidak diantisipasi akan membahayakan umat manusia, terutama berimbas pada kehidupan generasi mendatang pewaris

alam ini. Sisi lain, batasan konservasi dapat dilihat berdasarkan pendekatan tahapan

wilayah, yang dicirikan oleh: (1) pergerakan konservasi, ide-ide yang berkembang pada akhir abad ke-19, yaitu yang hanya menekankan keaslian bahan dan nilai dokumentasi, (2) teori konservasi modern, didasarkan pada penilaian kritis pada bangunan bersejarah yang berhubungan dengan keaslian, keindahan, sejarah, dan penggunaan nilainilai lainnya (Jokilehto, dalam Anatriksa, 2009)

Berhasilnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi yaitu :

a) Menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan

bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem

penyangga kehidupan).

b) Menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya

sehingga mampu menunjang pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang

memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam

hayati bagi kesejahteraan

c) Mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin

kelestariannya. Akibat sampingan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang

bijaksana, belum harmonisnya penggunaan dan peruntukan tanah serta belum berhasilnya sasaran konservasi secara optimal, baik di darat maupun di perairan dapat mengakibatkan timbulnya gejala erosi, polusi dan penurunan potensi sumber daya alam hayati (pemanfaatan secara lestari).

Secara hukum tujuan konservasi tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yaitu bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Selain tujuan yang tertera di atas tindakan konservasi mengandung tujuan:

a) Preservasi yang berarti proteksi atau perlindungan sumber daya alam terhadap eksploitasi komersial, untuk memperpanjang pemanfaatannya bagi keperluan studi, rekreasi dan tata guna air.

b) Pemulihan atau restorasi, yaitu koreksi kesalahan-kesalahan masa lalu yang telah membahayakan produktivitas pengkalan sumber daya alam.

c) Penggunaan yang seefisien mungkin. Misal teknologi makanan harus memanfaatkan sebaik-baiknya biji rambutan, biji mangga, biji salak dan lain-lainnya yang sebetulnya berisi bahan organik yang dapat diolah menjadi bahan makanan.

d) Penggunaan kembali (recycling) bahan limbah buangan dari pabrik, rumah tangga, instalasi-instalasi air minum dan lain-lainnya. Penanganan sampah secara modern masih ditunggu-tunggu.

d) Mencarikan pengganti sumber alam yang sepadan bagi sumber yang telah menipis atau habis sama sekali. Tenaga nuklir menggantikan minyak bumi.

e) Penentuan lokasi yang paling tepat guna. Cara terbaik dalam pemilihan sumber daya alam untuk dapat dimanfaatkan secara optimal, misalnya pembuatan waduk yang serbaguna di Jatiluhur, Karangkates, Wonogiri, Sigura-gura.

f) Integrasi, yang berarti bahwa dalam pengelolaan sumber daya diperpadukan berbagai kepentingan sehingga tidak terjadi pemborosan, atau yang satu merugikan yang lain. Misalnya, pemanfaatan mata air untuk suatu kota tidak harus mengorbankan kepentingan pengairan untuk persawahan.

Penurunan jumlah dan mutu kehidupan flora fauna dikendalikan melalui kegiatan konservasi secara insitu maupun eksitu

a) Konservasi insitu (di dalam kawasan) adalah konservasi flora fauna dan ekosistem yang dilakukan di dalam habitat aslinya agar tetap utuh dan segala proses kehidupan yang terjadi berjalan secara alami. Kegiatan ini meliputi perlindungan contoh-contoh perwakilan ekosistem darat dan laut beserta flora fauna di dalamnya. Konservasi insitu dilakukan dalam bentuk kawasan suaka alam (cagar alam, suaka marga satwa), zona inti taman nasional dan hutan lindung. Tujuan konservasi insitu untuk menjagakeutuhan dan keaslian jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya secara alami melalui proses evolusinya. Perluasan kawasan sangat dibutuhkan dalam upaya memlihara proses ekologi yang esensial, menunjang sistem penyangga kehidupan, mempertahankan keanekaragaman genetik dan menjamin pemanfaatan jenis secara lestari dan berkelanjutan.

b) Konservasi eksitu (di luar kawasan) adalah upaya konservasi yang dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa di luar habitat alaminya dengan cara pengumpualn jenis, pemeliharaaan dan budidaya (penangkaran). Konservasi eksitu dilakukan pada tempat-tempat seperti kebun binatang, kebun botani, taman hutan raya, kebun raya, penangkaran satwa, taman safari, taman kota dan taman burung. Cara eksitu merupakan suatu cara memanipulasi obyek yang dilestarikan untuk dimanfaatkan dalam upaya pengkayaan jenis, terutama yang hampir mengalami kepunahan dan bersifat unik. Cara konservasi eksitu dianggap sulit dilaksankan dengan keberhasilan tinggi disebabkan jenis yang dominan terhadap kehidupan alaminya sulit berdaptasi dengan lingkungan buatan.

c) Regulasi dan penegakan hukum adalah upaya-upaya mengatur pemanfaatan flora dan fauna secara bertanggung jawab. Kegiatan kongkritnya berupa pengawasan lalu lintas flora dan fauna, penetapan quota dan penegakan hukum serta pembuatan peraturan dan pembuatan undang-undang di bidang konservasi

d) Peningkatan peran serta masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam konservasi sumber daya alam hayati. Program ini dilaksanakan melalui kegiatan pendidikan dan penyuluhan. Dalam hubungan ini dikenal adanya kelompok pecinta alam, kader konservasi, kelompok pelestari sumber daya alam, LSM dan lain lainnya.

Disarikan dari berbagai sumber